Intel kembali menunjukkan tanda pemulihan setelah melaporkan hasil keuangan kuartal ketiga 2025 yang melampaui perkiraan pasar. Menurut laporan resmi perusahaan dan berbagai sumber terpercaya, Intel membukukan pendapatan sebesar US$13,7 miliar, naik sekitar 3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba bersih tercatat US$4,1 miliar, berbalik dari kerugian di kuartal ketiga 2024.
(AA News Agency, Thurrott)
Kinerja di atas ekspektasi ini langsung mendorong harga saham Intel naik tajam di bursa. Para analis menilai, hasil tersebut menjadi sinyal bahwa strategi efisiensi dan restrukturisasi internal yang dijalankan dalam dua tahun terakhir mulai menunjukkan hasil.
Faktor Pendorong: Efisiensi dan Bisnis Foundry
Beberapa aspek utama yang menopang kinerja Intel antara lain:
- Perbaikan operasional — Intel berhasil menekan biaya, mempercepat rantai pasok, serta memangkas area bisnis yang kurang produktif.
- Fokus pada layanan manufaktur chip (Intel Foundry Services) — Perusahaan mulai beralih dari sekadar produsen chip ke penyedia layanan pembuatan chip bagi pihak ketiga, mirip model TSMC.
- Permintaan tinggi untuk AI dan komputasi data — Pertumbuhan pasar akselerator AI dan data center turut mendorong peningkatan pendapatan pada lini bisnis baru Intel.
(Seeking Alpha)
Tantangan Masih Membayangi
Meskipun hasil kuartal ini positif, Intel masih menghadapi beberapa rintangan besar. Divisi foundry—yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan masa depan—masih mencatat kerugian operasional dan membutuhkan waktu sebelum bisa berkontribusi signifikan terhadap laba.
Selain itu, Intel tetap bersaing ketat dengan TSMC, AMD, dan pemain baru di sektor chip AI. Pasar semikonduktor sendiri juga masih fluktuatif karena ketergantungan pada rantai pasok global dan faktor geopolitik.
Dampak Lebih Luas
Kebangkitan Intel punya arti strategis bagi industri teknologi global. Pergeseran fokus ke foundry dan AI menunjukkan bahwa masa depan chip tidak hanya soal performa, tapi juga layanan dan fleksibilitas desain.
Bagi kawasan Asia, termasuk Indonesia, langkah Intel ini berpotensi membuka peluang kerja sama di bidang manufaktur dan pengembangan teknologi berbasis AI. Namun, ketergantungan terhadap ekosistem global juga berarti risiko yang lebih besar bila terjadi gangguan rantai pasok atau ketegangan geopolitik.