Apa Bedanya Abundance dan Scarcity Mindset?
Konsep ini diperkenalkan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People.
Secara sederhana:
- Scarcity mindset adalah cara berpikir yang merasa hidup ini serba terbatas. Misalnya, kalau orang lain sukses, artinya jatah kita berkurang. Akibatnya? Kita jadi mudah cemas, merasa terancam, dan sulit mendukung keberhasilan orang lain.
- Abundance mindset adalah pola pikir yang percaya bahwa ada cukup ruang dan rezeki untuk semua orang. Orang dengan mindset ini lebih mudah merasa bersyukur, kolaboratif, dan terbuka terhadap peluang baru.
Pengaruhnya terhadap Hidup Sehari-hari
Penelitian dari Princeton University menunjukkan bahwa ketika seseorang terlalu fokus pada kekurangan—misalnya uang atau waktu—kemampuan otaknya bisa menurun, mirip seperti orang yang begadang semalaman.
Sebaliknya, orang dengan mindset abundance cenderung lebih kreatif dan punya kemampuan problem-solving yang lebih baik. Ini dibuktikan lewat riset Mehta & Zhu, yang menunjukkan bahwa mindset kelimpahan bisa memperluas cara seseorang berpikir.
Gimana Cara Beralih ke Abundance Mindset?
Dilansir dari Verywell Mind, berikut beberapa langkah praktis yang bisa kamu coba:
- Sadari posisi kamu sekarang tanpa menyalahkan diri sendiri.
- Bersikap lembut terhadap diri sendiri atas kesalahan atau keterlambatan yang pernah terjadi.
- Syukuri hal-hal yang sudah kamu miliki, sekecil apa pun itu.
- Tentukan arti “kelimpahan” versi kamu sendiri, karena setiap orang punya definisi sukses yang berbeda.
- Lakukan perubahan kecil secara konsisten, misalnya dengan menuliskan tiga hal yang kamu syukuri setiap malam.
Cara kita memandang dunia menentukan arah hidup kita.
Dengan membiasakan diri berpikir bahwa rezeki dan kesempatan tidak terbatas, kita akan jadi lebih optimis, terbuka, dan siap tumbuh bareng orang lain.
Perubahan nggak harus drastis. Cukup mulai dari pola pikir, karena itulah fondasi dari semua tindakan kita.