1. Ketergantungan Global yang Tinggi
Saat ini, China masih menguasai mayoritas produksi baterai kendaraan listrik, dengan porsi sekitar 85% untuk sel baterai dan 90% untuk pengolahan bahan baku seperti litium, kobalt, dan grafit. Kondisi ini membuat banyak negara dan perusahaan dunia berupaya mencari alternatif agar tidak sepenuhnya bergantung pada rantai pasok yang dikuasai China.
2. Inovasi Baterai Alternatif
Berbagai teknologi baru mulai bermunculan, antara lain natrium-ion, lithium-sulfur, LNMO, dan solid-state batteries.
- SVOLT tengah mengembangkan baterai solid-state dan menargetkan produksi massal pada 2027.
- Lyten dari Silicon Valley mengakuisisi Northvolt di Swedia untuk memproduksi lithium-sulfur, meski diperkirakan baru bisa diproduksi besar-besaran setelah 2028.
3. Langkah Industri Global
- General Motors (GM) menggelontorkan investasi miliaran dolar untuk memproduksi baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) di AS, sekaligus menggandeng Samsung SDI dan LG Energy Solution.
- Tesla, Ford, dan Rivian juga beralih ke baterai LFP karena lebih aman, tahan lama, dan murah. Upaya ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dari China.
4. Posisi Indonesia
Indonesia punya cadangan nikel yang melimpah dan bisa menjadi pemain besar di pasar baterai EV. Namun, hilirisasi industri masih menghadapi kendala karena proses manufaktur baterai masih sangat bergantung pada teknologi dan investasi China.
- CATL, perusahaan asal China, sudah membangun pabrik di Karawang dengan target produksi 6,9 GWh per tahun pada 2026 dan ekspansi hingga 15 GWh. Mereka juga mengembangkan fasilitas pemurnian nikel di Maluku Utara.
Ringkasan Tren
- China masih dominan dalam rantai pasok baterai global.
- Teknologi alternatif seperti natrium-ion, lithium-sulfur, dan solid-state menjadi fokus riset.
- AS dan Eropa berusaha membangun ekosistem baterai mandiri melalui investasi besar.
- Indonesia punya modal kuat dari sumber daya nikel, tapi masih sangat bergantung pada mitra dari China.
Kesimpulan
Perlombaan global dalam inovasi baterai semakin ketat, dengan fokus mengurangi dominasi China di industri kendaraan listrik. Perusahaan seperti SVOLT, Lyten, dan GM menunjukkan arah baru dalam pengembangan baterai generasi berikutnya. Bagi Indonesia, peluang terbuka lebar untuk menjadi pemain penting, asalkan mampu memperkuat hilirisasi dan teknologi lokal.