source image : https://images.theconversation.com/files/533841/original/file-20230625-88742-4znwte.jpg?ixlib=rb-4.1.0&rect=0%2C0%2C3072%2C2041&q=45&auto=format&w=926&fit=clip
Tuduhan dari Media Asing
Beberapa media internasional, terutama dari Rusia, mengangkat dugaan adanya keterlibatan lembaga yang didirikan miliarder George Soros—seperti Open Society Foundations (OSF) dan National Endowment for Democracy (NED)—dalam gelombang aksi protes di Indonesia. Pengamat geopolitik Angelo Giuliano bahkan menilai penggunaan simbol tertentu di lapangan, seperti bendera bajak laut “One Piece”, mirip dengan pola mobilisasi massa dalam gerakan “revolusi warna” di negara lain.
Minim Bukti Konkret
Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti independen yang menguatkan klaim tersebut. Banyak analis menekankan bahwa tuduhan keterlibatan Soros masih sebatas spekulasi. Pihak yang menghubungkan kerusuhan di Indonesia dengan agenda eksternal dinilai lebih bersandar pada narasi politik daripada data yang bisa diverifikasi.
Jejak Tuduhan di Masa Lalu
Soros sendiri bukan pertama kali menjadi sorotan. Pada krisis finansial Asia 1997–1998, ia sempat dituduh sebagai dalang yang memperparah gejolak ekonomi di Malaysia dan Indonesia. Namun, Soros kemudian membantah tuduhan tersebut. Bahkan, Perdana Menteri Malaysia kala itu, Mahathir Mohamad, akhirnya mengakui tidak ada bukti kuat atas keterlibatan Soros, dan hubungan mereka sempat membaik di tahun-tahun berikutnya.
Akar Masalah Lebih Bersifat Lokal
Banyak pengamat menilai bahwa protes di Indonesia lebih dipicu oleh faktor domestik, seperti kebijakan tunjangan anggota DPR yang dinilai berlebihan, ketidakpuasan terhadap elit politik, serta kondisi ekonomi yang menekan masyarakat. Isu ini dinilai lebih relevan sebagai pemicu utama, dibandingkan keterlibatan pihak asing.
Kesimpulan
Narasi mengenai keterlibatan George Soros dalam kerusuhan di Indonesia masih lemah dan belum terbukti. Meski kerap dijadikan kambing hitam dalam gejolak sosial-ekonomi di berbagai negara, akar demonstrasi di Indonesia lebih dapat dijelaskan lewat dinamika politik dan ekonomi dalam negeri, bukan intervensi eksternal.